Alex: Into The Worlds (Short Story)


Kilauan sinar bulan terrefleksi di ujung ponsel Alex Newman kala ia membuka ponsel genggam miliknya. Wajahnya tersenyum kecut saat menyadari bahwa daerah ini tidak terjangkau oleh jaringan seluler. Ia berpikir bahwa ponsel itu sama sekali tak berguna selain hanya digunakan sebagai alat penerang.

Daun basah merembes masuk ke sela-sela sepatu di tiap langkahnya. Alex tak bisa melihat apapun, maupun mendengar segelombang suarapun selain hanya derapan langkahnya yang memecah keheningan. Asap tebal dan deretan batang pohon tumbuh tak beraturan memblokir penglihatannya. Rasa tak nyaman merayap di tulang belakang Alex, membuatnya menaikkan tas punggungnya serta tangannya berpegangan dengan erat pada strap bahu. Berjaga-jaga dan bersiap untuk lari jika kawanan hewan buas akan mengejarnya. Alex berteriak memanggil beberapa nama orang yang dianggap sebagai temannya, hasilnya nihil, tidak ada balasan apapun dari makhluk hidup lain. Berkilometer sekian telah dilaluinya. Alex pun berjuang agar tak sampai terjatuh ke tanah. 

Tubuh Alex bergetar saat tiba di sebuah pohon besar. Dilepaskannya tas ransel berat tersebut, lalu ia letakkan di ruang kosong sebagai alas punggungnya. Pikir Alex, ia berniat akan bermalam dibawah pohon tersebut. Didaratkanlah pantatnya di sebuah akar yang menjorok keatas permukaan, menyandarkan punggung di tas, lalu mengatur napasnya untuk rileks. Alex tak pernah merasa sebodoh itu dalam mengambil keputusan. Seharusnya ia tidak masuk terlalu jauh ke hutan untuk buang air. Dia berpikir bahwa itu adalah kesalahan temannya yang tak menunggunya, namun dirinya sadar bahwa tak ada sepatah katapun yang diucapkan pada teman-temannya sebelum ia berlari menjauhi kawanannya.

Alex mengambil botol air dan meneguknya. Dengungan nyamuk berputar di kepalanya. Dia bangkit, tangannya mengibas-ibaskan celananya yang kotor tersebut dan berpikir bahwa tidur di tempat terbuka bukanlah ide yang bagus. 

Suara mendecit memukul di telinganya dari atas. Alex menengadah, "Apakah terdapat gua di sekitar sini?" Tentu saja para kelelawar tersebut tidak bisa memahami perkataannya. Tapi Alex tidak peduli. Ia bisa menunggu disuatu tempat sampai matahari terbit. Kelelawar tersebut menggantung di sebuah dahan pohon mengamatinya. Seekor kelelawar lain terbang dari suatu tempat, lalu tergantung disebelahnya. Kemudian seekor datang lagi dan ia melakukan hal yang sama. Menyadari pola tingkah laku tersebut, mungkin ada sebuah kelompok kelelawar lain disekitarmya. Alex yakin bahwa mungkin kelelawar tersebut datang dari suatu tempat. Dia berjalan ke arah dari mana kelelawar tersebut berasal. 

Tak ada gundukan apapun di sepanjang sekitar tiga meter jauhnya. Dia juga tak memahami struktur tanah disekitar area tersebut. Perkemahan ini seharusnya menjadi hal yang seru, seharusnya berakhir dengan tawa, nyanyian api unggun disertai gitar, lalu membakar jagung. Tapi tidak. Tidak untuk Alex Newman. 

Keringat meluncur di dahinya, napasnya menjadi tak beraturan, dia merasakan dadanya terbakar. "Sialan! Sialan! Sialan!" Alex menendang ke salah satu batang pohon dengan sepatunya. Dia mencoba mengelola napasnya, lalu melirik sekeliling. Dia melihat seekor tupai sedang menggigit sesuatu. Diraihnya segenggam pasir, lalu dilemparkannya kearah tupai tersebut sekuat tenaga. Teriakan itu mendengung di kepalanya sendiri. 

Bukan cuma sesuatu yang digigit oleh tupai tersebut, dari pencerahan cahaya rembulan, benda itu tampak berkarat. Alex berjalan mendekatinya, berharap kalau itu adalah semacam peti berisi harta karun terpendam atau apa. Tapi itu hanyalah sebuah cincin besi ditutupi oleh daun basah yang gugur. Tangannya menyapu dedaunan tersebut. Terkuak sebuah pintu besi berbentuk lingkaran yang biasanya dijumpai di tempat-tempat terjadinya perang nuklir. Ia meraih gagang pintu berbentuk cincin tersebut, lalu menariknya sampai pembuluh darah di tangannya ikut menonjol. Pintu tersebut terbuka.

Sebuah tangga dipasang mengarah langsung menuruni bunker gelap tersebut. Dia meneranginya dengan cahaya dari ponselnya. Isinya kosong melompong. Alex pikir hal itu bukanlah sebuah masalah besar. Yang terpenting adalah asalkan ia mempunyai tempat untuk bermalam, dia tak keberatan. Alex menjejaki anak tangga satu per satu, dengan pelan supaya kakinya tidak tergelincir. Ia menghela napas tatkala kakinya mendarat ke permukaan dengan aman. Sebetulnya Alex ragu, kenapa tak ada satupun orang yang memasang jebakan di tempat seperti ini? Tapi dirinya tak memiliki ketertarikan untuk memikirkannya. 

Diteranginya tempat tersebut dari segala sisi. Memang benar, tidak ada hal yang spesial didalamnya maupun sepetak perabotan rumah untuknya tidur. Kecuali ada sebuah pintu bertuas yang tertulis, dilarang untuk dibuka. Meskipun, tanpa diberitahu dia pasti juga tak akan berpikir untuk membukanya. Alex gemetar kalau saja tubuhnya meledak tepat setelah dia menyentuh tuas pintu tersebut. Lalu ia pun membaringkan diri tanpa dialasi apapun, dengan tas yang digunakannnya sebagai bantal. Dia mulai menutup matanya. Akan tetapi ia malah kesulitan untuk tidur dan mulai mengutuk dirinya sendiri.

Merinding merayap di sekujur tubuhnya kala suara dentuman besar terdengar dari dalam pintu tersebut. Dia membuka matanya, mengelap keringat di dahi, menumpukan tubuhnya dengan satu tangan. Dia pun bangkit, rasa penasaran memenuhi otaknya. Mungkin kah ada orang didalam sana? Atau itu hanyalah seekor gajah dari luar yang mengijakkan kaki tepat diatas tempat dimana pintu tersebut diketakkan. Namun itu mustahil. Dia seharusnya dapat mendengar suara auman gajah melalui lubang yang sama sekali belum ditutupnya tersebut. Alex menempelkan telinganya sendiri di permukaan pintu.

Nihil. Tapi entah bagaimana didalamnya seperti ada suara hembusan angin di setiap badai musim dingin. Alex memutar tuasnya menyamping, lalu mendorongnya sekuat tenaga membuat engselnya berdecit.

Dia benar, didalamnya terdapat sebuah lorong satu arah gelap dengan bunyi aneh yang terdengar diujung lorong. Alex mengambil ranselnya, dan masuk kedalam pintu tersebut, lalu menutupnya. 

Udara dingin menggigit seluruh permukaan kulitnya wajahnya, dia melipat tangannya dan membuat tubuhnya merasa lebih nyaman. Angin bertiup membuat rambut di pelipisnya terbang ke belakang. Anehnya, lorong tersebut seperti tak memiliki ujung ketika disusuri olehnya. Dia tetap lurus, berusaha untuk tak menengok kebelakang, namun semakin jauh tubuhnya terasa semakin menggigil.

Semakin lama, muncul relief-relief aneh yang terukir dari batu dan mengelilingi dinding lorongnya. Seperti bahasa kebudayaan Aztec, namun dirinya tak yakin. Disamping itu, orang-orang Aztec menggunakan relief untuk mengukir sebuah gambar kejadian antara manusia, maupun dewa-dewa mereka. Kadang kala juga mengukirkan bentuk bunga dan jagung, tidak pernah ia menjumpai tulisan seperti ini di kuil peninggalan yang pernah dikunjunginya. Barangkali seseorang dari abad ke-20 lah yang menuliskannya. Mengingat relief ini masih nampak bersih, baru, seperti sebuah kode rahasia Nazi yang diukir untuk menyampaikan pesan, yang tak mungkin bisa dibacanya. Tapi untuk apa? Tidakkah manusia sudah mulai menemukan kertas?

Tertarik, ujung tangannya meraba dari ukiran ke ukiran. Berharap dengan sekali sentuhan dirinya dapat dengan mudah memahaminya. Tanpa sadar, cahaya dari luar secara perlahan mulai mendekat kearahnya. Itu adalah sebuah api, tidak, dua buah api. Dan api-api tersebut...

Alex merasakan hawa dingin menggigit di kulit kakinya seperti air yang masuk ke sepatunya, dia sadar bahwa dia tak lagi menjejakkan kakinya di rerumputan. Melainkan salju. 

Aneh. 

Padahal musim bersalju sudah lewat sebulan yang lalu. Ini sungguh salah, segalanya disini sungguh salah. Mendadak lengan kirinya memanas. Seperti ia baru saja dilewati oleh bola api. Pandangan Alex tertuju pada sepasang siluet bayangan dari luar, berdiri di mulut gua dengan memasang kuda-kudanya. Angin sejuk masuk membawa kepingan salju kecil ke pipi Alex. Dari belakang, dia tak dapat melihat apapun kecuali sebuah benang tipis berkilau yang tampak tergantung dari kedua sisi.



Alex meluruskan pandangan, kedua pria gembel berambut hitam panjang yang ia rasa tak pernah dicuci tersebut menatapnya dengan sebelah tangan yang terbakar. Mereka mengenakan mantel musim dingin kelabu, sepatu buts hitam, seluruh badannya dikelilingi oleh jubah putih salju, dengan bulu dari kulit serigala yang melingkari bahunya. Mungkin caranya untuk berkamuflasi.

"Kasz sche tu?!" Salah satu dari mereka berteriak.

"Case.. APA?! Dimana aku? Siapakah kalian berdua? Kenapq tangan kalian terbakar?! Tunggu, apakah itu sihir?"

"Etse spokenn di Aeven Rommerian var bahaas." Salah satu dari mereka berbisik. "Sche sozt it maggre derc di wardsac var Kevten Kruger?"

"Oisa." 

Alex sepenuhnya lepas, pikirannya tak dapat mengikuti. Yang dapat dipahaminya sekarang adalah mereka membicarakan tentang seseorang bernama Kevten Kruga dan Even Romarian. Meskipun, dia tak yakin apakah kata tersebut berguna sebagai subjek di dunia ini.

"Apa yang mereka berdua bicarakan?" Ujar Alex lirih.

Alex rasa dia telah salah masuk, terbesit niat di dalam dirinya untuk kembali ke hutan tempatnya ia menemukan bunker tersebut.

Alex melangkahkan kakinya ke belakang, mencoba untuk tak kehilangan sedetikpun pandangan dari kedua pria yang siap membunuhnya tersebut. Ini adalah kesalahan, dia seharusnya tak masuk ke dalam bungker tersebut. Sudah jelas dikatakan pada bungkernya bahwa siapapun tak diijinkan untuk masuk. Dia terus berjalan semakin cepat dan semakin cepat menjauhi mereka dengan ketakutan menyelinap di bawah kulitnya. Dia tahu bahwa kedua orang berpakaian penyihir aneh itu sudah bersiap untuk memanggangnya. Api berhenti menggeliat ditangan kedua penyihir tersebut, setelah menyadari bahwa jarak Alex dengan mereka mulai menjauh. Dia akhirnya bernapas lega, meskipun sebagian dari dirinya menginginkan untuk tinggal dan mencari tahu apa yang baru saja dilihatnya tersebut. 

Setelah sampai jauh melangkah maju menuju ke bunker tersebut, dia melihat ada cahaya yang tampak membesar. Alex berlari mendekatinya, akhirnya dia bisa kembali. Ia melihat secercah harapan dari matahari terbit, dia pasti bakal bisa bertemu lagi dengan teman-temannya. Tapi, sewaktu ia berlari mendekati cahaya tersebut, bukannya pintu bunker tempatnya ia masuk yang didapat, namun siluet kedua pria tersebut tampak berdiri disana. 

Aneh.

Bukankah Alex tadi berlari ke arah yang berlawanan? Kenapa dia bisa kembali ke tempatnya semula? Dia berlari menuju ke arah berlawanan dari cahaya, hasilnya masih sama. Dia terus kembali ke tempat dirinya berdiri saat ini, dan siluet kedua pria tersebut selalu terlihat sedang berdiri diluar. Seolah terowongan tempatnya masuk hanya memiliki satu arah, kembali dan kembali. Rasa di dalam dadanya seperti hendak meledak. Alex mengelap keringat dengan tangannya, lalu meninju dengan keras bidang apapun yang dapat ditemukannya. Rasa sakit mengalir di tulang jemarinya, Alex mendesis dan mengibas-ibaskan tangannya tersebut, lalu ia gunakan untuk menjambak rambut panjangnya sendiri. Alex mengontrol napasnya, dengan sempoyongan, dia berpikir mungkin mati ditangan kedua pria tersebut terasa menyenangkan. 

Kenapa dirinya tak bisa keluar? Pikirnya, Apakah seseorang mengguna-gunai tempat ini. Jika ia, apa tujuannya dengan hanya mengguna-gunainya dalam satu arah? Jika tak diijinkan untuk keluar, kenapa dia diijinkan untuk masuk? Dia tak bisa memahami bagaimana cara kerja ruangan aneh yang menyalahi hukum fisika ini.

Alex berhenti tepat di depan pria tersebut. Mengangkat kedua tangannya dengan memberi mereka tatapan penuh air mata yang tak bernyawa. Dia menyadari bahwa ada yang aneh dengan struktur wajah salah satu pria tersebut. Matanya merah menyala, dengan tulang pipi yang memiliki Tato garis hitam dan dikeningnya memiliki bentuk ketupat, seperti salah satu dari ukiran yang tertulis didalam terowongan tadi. Namun, pria di sebelahnya tak memiliki tato apapun, hanya memiliki mata merah yang sama dengannya. 

Kedua pria tersebut sepertinya memahami bahwa ia ingin dibunuh oleh mereka.

"Itu tidak diperlukan. Jangan takut terhadap kami." Kata pria bertato tersebut. Dia terkejut kalau dirinya bisa berbicara bahasanya. Menyadari ekspresi aneh yang dilihatnya di wajah aneh itu setelah menatap tatonya, Shaman berkata. "Para Evelad yang memberiku kutukan tersebut. Oleh karena itu keluargaku membuangku dari Rajatsar dan melemparkanku kesini. Ngomong-ngomong namaku Shaman."

"Alex." Tangannya menjabat Shaman, lalu ia menjabat pria yang satunya lagi

"Rakan. Senang bertemu denganmu."

Mereka berdua berbicara dengan logat aneh. Seperti logat orang-orang Denmark.

"Banyak orang yang tersesat dari dunia lain sepertimu disini. Tugas kami adalah untuk mengawasi lubang, tatkala ada pendatang yang secara tak sengaja lewat, memastikan bahwa mereka baik-baik saja dan membawanya ke Frostdance."

Lubang, pintu tersebut disebut mereka sebut dengan lubang.

"Begitu saja? Kalian takkan membunuhku atau menangkapku? Atau bahkan mencurigaiku? Apa kalian pikir aku tidak berbahaya?"

"Tenang saja, jika apa yang kau katakan benar, kau pasti sudah jadi hidangan makan malam kami berdua." Shaman menyeringai.

"Akali sepertimu, maksudku, jenismu, tidak ada bahayanya bagi kami."

"Apa yang kau maksud dengan jenisku? Akali? Apa yang kau bicarakan?"

Rakan mengabaikan ucapannya. "Tolong ikutlah dengan kami?"

"Dimana?"

"Desa Svarkenn, tempat para pendatang dari dunia lain maupun imigran akibat peperangan yang mencari perlindungan."

"Kau akan diadili dan diberikan tes terlebih dahulj oleh kepala desanya. Itu untuk menentukan apakah kau boleh menetap atau dibuang sebagai masyarakat kelas terbawah di Aessenhelter. Nantinya jika kalian bersih, kalian akan diberikan pekerjaan untuk menunjang kemakmuran dan kekayaan kota Aessenhelter, sebagai gantinya kalian akan diberikan tempat tinggal." Jelas Shaman.

"Bisakah aku kembali di rumahku?"

"Para Celestial tak mengijinkannya."

"Kenapa tidak?"

Mereka bedua menatap kearahnya tak bergeming. "Tidak ada yang boleh mempertanyakan tujuan para Celestial. Kau harus ikut denganku menemui sebangsamu, Kapten Kruger."

"Kapten Kruger—" ucapan Alex terputus.

Tubuhnya berguncang hebat secara mendadak. Hal itu membuat Alex hampir kolaps. Gemuruh menggelegar di seluruh gua, menciptakan bunyi yang menggema di mulut gua. Secara refleks, tangan Alex menggenggam erat ke bahu Shaman sebagai tumpuan. Alex menjerit histeris, Shaman dan Rakan bertingkah seolah mereka telah menyaksikan hal ini lebih dari satu kali.

"Bersiap!"

Shaman menjentikkan jarinya, sampai partikel ungu yang mirip debu keluar di area sekitar lengannya. Ia meraih materi ungu aneh itu dan menggenggamnya layaknya dia tengah memegang pedang. Shaman menarik lengannya, kemudian materi ungu aneh itu ikut memanjang menciptakan percikan api yang kian membesar hingga membentuk pedang. Alex merasakan merinding merayapi sekujur tubuh setelah memandangnya.

"Kau bisa menciptakan pedang di udara?"

"Itu adalah teknik pertukaran. Tak semua Caster dapat melakukannya. Ini adalah kemampuanku yang tertinggi selain melemparkan api."

"Itu sungguh keren! Apakah gemuruh itu juga kekuatanmu?"

"Tidak. Sebuah entitas tak dikenal dari luar berusaha untuk membobol lubang masuk secara paksa."

"Maksudmu seseorang sepertiku?"

"Awalnya kami kira itu adalah dirimu, setelah kau muncul hampir bersamaan dengan gemuruh. Itu adalah entitas superkuat dari dunia luar yang dikurung oleh para Celestial ribuan tahun yang lalu."

Alex bergidik, dia hampir saja mati.

"Kenapa?"

Gemuruh berhenti. Shaman mengajak Alex untuk keluar dari gua. Hukum gravitasi disini sungguh aneh dan lucu. Disana terdapat sebuah patung raksasa yang sangat besar sedang melayang diatas gua. Patung-patung tersebut nampak serupa, berbentuk tiga makhluk yang menyerupai manusia dengan tudung yang menutupi kepalanya, ketiga manusia tersebut terbang dengan masing-masing tangan kanan mereka berusaha untuk mencengkeram sebuah bola. Beberapa batuan besar juga ikut terbang melingkari bola kecil itu sebagai pusatnya. Patung-patung tersebut tampak megah dan besar terbuat dari batu marmer yang sedikit terkikis dan menua.

"Apa gunanya semua itu?"

"Itu sebagai monumen pertempuran terakhir. Dengan entitas tersebut."

"Kenapa entitas tersebut menyerang duniamu? Apa sebenarnya tujuannya?"

"Kami tidak tahu." Shaman tampak gusar. "Apa yang kita tahu adalah bahwa kita harus mencegah terjadinya hal tersebut dengan berjaga-jaga bilamana segel telah dirusak. Itu adalah tugas kami, The Blind Voyager."

"Aku masih tak bisa memahaminya. Sihir, dan apapun entitas itu di dunia ini. Tapi, bagaimana dengan lubang tersebut? Kenapa para Celestial menyangkal seseorang untuk keluar? Kenapa hanya satu arah?"

"Tidak ada yang tahu. Itu terjadi karena peperangan ribuan tahun yang lalu antara Celestial pengkhianat dengan Trinity Suci. Dan mengenai pintu masuk, ada ratusan, bahkan ribuan dunia diluar sana yang masih terbuka. Beberapa diantaranya tertutup, namun ada beberapa kelalaian para Celestial untuk menyegelnya sehingga membiarkannya tetap terbuka."

"Kenapa tak langsung dibenahi?"

"Entahlah. Kita tak boleh mempertanyakan tujuan para Celestial, bukankah begitu?"

"Hal-hal mengenai para Celestial ini terdengar sungguh aneh. Tapi, tentu saja. Aku bersedia ikut."

"Kalau begitu mari, kuantar kau ke Kapten Kruger."

* * *


Comments

  1. can i apply as ur editor? it's not because your writing has too many typos. Just in case, if you busy and didn't had enough time to recheck, well I know we're not that close to being partners. but can i? and can u be my mentor?

    ReplyDelete
    Replies
    1. This is such a great offer! And I'm really appreciate it, truly. However, i probably might need some time to think about this. Firstly, i would like to know about you, any chance you could send me your WhatsApp number? Or via Email?

      Delete

Post a Comment