Anatomy of Solitude - Chapter I: Miskomunikasi



Aku mendaratkan pantatku di sofa bersebelahan dengan ayahku. Menyalakan televisi ke saluran SBS sambil menggenggam semangkuk es krim coklat. Ayah bahkan tidak sedetikpun melirik padaku, atau bahkan terdistraksi oleh suara pembukaan acara televisi The Devil's Vessel. Dia memusatkan perhatiannya pada buku yang ia baca, kemungkinan tidak menyadari keberadaanku. Ayah memiliki kebiasaan ini kala dirinya sedang duduk membaca, dia akan memoncongkan mulut seperti seekor bebek. Setiap kali ia melakukan hal tersebut, ibu dan aku sering menjulukinya dengan Moncong Pop-typus, plesetan dari Platypus. Hal itu mengindikasikan sebagai semacam isyarat darinya agar tidak diganggu. Ayah akan selalu menyangkal jika kami berdua membawa perbincangan itu ke meja makan.

"Kau melakukan moncong Pop-typus lagi."

Ayah menoleh padaku dengan mulut terbuka. "Aku tidak melakukannya? Disamping itu. Tidakkah kau ada sekolah besok? Kenapa kau masih terbangun sampai larut sambil makan es krim?"

"Tunggu sampai serial ini selesai. Aku akan tidur. Janji."

Ayah hanya menghela napas dan mengabaikanku.

Semenjak ibu meninggal karena overdosis dua tahun yang lalu, kehidupan di atap rumah ini hanya tinggal kami berdua. Ibu dulunya selalu menjadi ibu rumah tangga yang jarang keluar, dia yang selalu memasak, mengerjakan tugas apapun di rumah. Semuanya sudah tak nampak seperti dulu lagi setelah kepergiannya, seolah ibu adalah mentari yang sinarnya menerobos awan, sejak sinarnya menghilang, yang ada hanyalah mendung tak tertahankan. Hal yang selalu kuingat darinya adalah kala aku ikut membantunya untuk memasak rendang. Itu adalah masakan kuliner Indonesia yang sulit, butuh waktu ber jam-jam bahkan untuk memasak daging sapi. Belum lagi mencari bumbunya. 

Ibu pernah berkata bahwasannya Eropa bukanlah tempat yang cocok untuk orang Jawa sepertinya---terutama England. Dia selalu menemukan berbagai kontras budaya di sekitar, dan bahkan selalu mengalami melupakan acap kali melepas sepatu sebelum memasuki beranda rumah seseorang. Mereka tidak banyak memiliki makanan asin yang dibumbui oleh bermacam rempah-rempah, kecuali jika kita mengesampingkan keju. Aku sering bertanya-tanya mengapa awalnya ibu memilih untuk pergi ke tempat ini jika tidak menyukainya.

Ayah meletakkan bukunya dan ikut menonton bersamaku.

"Serial macam apa yang kau tonton itu, Daniela?"

Terpaksa aku harus menjelaskan keseluruhan lore padanya.

Ayah dan aku jarang sekali menghabiskan waktu bersama di depan televisi. Dia seringkali duduk di kursi kesukaanya yang membelakangi jendela di ruang tamu sambil membaca. Ayah tidak pernah membicarakan soal depresinya, ataupun dia mau untuk membicarakannya. Aku selalu tahu kapanpun dia menjadi diam secara tiba-tiba maupun sedih. Suatu hari, aku menyarankannya untuk pergi ke terapi, dia masih belum membuat pertemuan seminggu kemudian. Sehingga kami berdua sepakat untuk tak membahasnya. Menurutku, dia sungguh buruk dalam hal memendam emosi.

Ia juga tidak biasanya memanggilku dengan panggilan penuh. Terkadang Dani, sunshine, atau bahkan menambahkan nama depan miss dengan diikuti oleh julukan yang dibuat-buatnya. Seperti Miss Environmental Empowerment ketika aku memutuskan untuk menjadi vegetarian setelah Eleanor Ives mempengaruhiku terhadap kekejaman pembunuhan hewan yang dilakukan manusia demi suplai daging sehari-hari, serta Miss Empati saat aku berencana untuk mogok makan setelah melihat tayangan betapa menyedihkannya kondisi anak-anak di Palestina akibat situasi perang.

Beberapa menit setelah The Devil's Vessel selesai, kami berdua tertidur pulas di sofa dengan TV menyala. Aku terbangun dengan selimut yang menutupi tubuhku, dan menjadikan pahanya sebagai bantalan.

Jane Hudson mengirimiku pesan beberapa hari setelahnya, pada hari minggu, mengabari bahwa ia akan datang ke rumahku dalam lima menit. Aku mengenakan hoodie aquamarine dan melangkah menuruni anak tangga untuk mengambil jus jeruk di dapur, ketika aku mendengar lonceng pintu dibunyikan dua kali. Aku mengintip ayah yang sedang memutar engsel pintu, disambut dengan senyum lebar Jane yang sedang menggenggam bingkisan kue kering.

"Jane! Senang bertemu denganmu!"

"Pak Guerrero, senang bertemu anda juga."

"Tolong pangil saja Miguel. Mari masuk!"

Jane melepas sepatu dan meletakkannya di rak bersebelahan dengan pintu. Ia memberi bingkisan kuning yang berisi toples kue kering ke tangan ayahku.

"Ini dari ayah, dia memaksaku untuk membawanya."

"Ah, baiklah, terima kasih banyak! Bagaimana kabarnya?" 

"Dia baik-baik saja. Dimana Dani?"

"Dia mungkin sedang berada di ruangannya." 

Aku menaikkan alis sambil meyeruput gelas di ambang pintu dapur ketika tatapan mata mereka bertemu denganku.

"Itu dia."

Jane mengikutiku ke lantai atas dengan tas punggungnya yang berat. Tipikal Jane.

Dia sama sekali tidak heran betapa betapa berantakannya ruanganku tersebut, ada banyak kertas-kertas berserakan yang berada diatas lantai. Ruanganku berukuran sederhana, dengan ranjang bermatras yang cukup ditempati oleh dua orang terletak di ruang bagian ujung, rak novel tergantung melingkar di dinding membelakangi pintu, jendela kecil yang menerobos ke pemandangan dinding berbata tetangga, serta meja belajar berantakan ditempeli oleh jadwal serta kertas tempel untuk mengingatkanku pada tugas-tugas mendatang. Penerangan lampu LED kuning yang kontras dengan dinding berwarna biru membuat penerangan di dalam seakan remang-remang. Kulit coklat tua bersinar Jane oleh keringat memantulkan lampu dari atas.

Aku mengambil salah satu kertas yang berisi essay yang sedari tadi kukerjakan, lalu memberikannya pada Jane untuk dikoreksi. Jane memberiku lembaran dari tasnya. Mrs. McCuloch menugasiku untuk menulis essay dengan tema bebas secara individual. Akan tetapi, Jane juga menulis essay untukku. Ini adalah sebuah tradisi grup kami. Semua anggota wajib membantu salah seorang anggota yang dibebani oleh tugas berat, seperti membuat essay. Mungkin ini terkesan curang, tapi bagaimana lagi. Jane suka menulis, aku menyukai sejarah, Eugene menghapal rumus apapun serta mendapat A dalam subjek Biologi dan Eleanor pandai berhitung. Tidak etis jika kami tidak memanfaatkan kelebihan masing-masing untuk kegunaan masing-masing. Hal ini sudah berjalan mulus, bahkan semenjak tahun kedelapan. 

"Aku sudah menulis bagian isi. Setelah kubaca ulang, rupanya aku merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan tesisnya." Kuberitahu Jane.

"Kau sudah membenahinya?"

"Tidak, masih belum."

"Kau lihat?" Ia menunjukkan padaku pada sebuah paragraf. "Kau tahu, disini kau menulis tentang detoksifikasi sosial media serta menjelaskan betapa pentingnya itu pada kesehatan mental, sementara pada bagian isi, kau minim menyebutkan pada hal apa detoksifikasi sosial media itu bagus. Kau terfokus membahas mengenai kelemahan sosial media."

"Itu benar, bukankah kita seharusnya mengenalkan pada mereka dampak buruk yang disebabkan oleh sosial media?"

"Ya, tapi caramu untuk mempengaruhi supaya orang-orang mau melakukan detoksifikasi kurang. Kau harus fokus mengenai hal itu."

Aku menganggukkan kepala. "Jadi, apakah semuanya sudah benar?"

"Menurutku begitu. Jadi, bagaimana denganku?"

"Aku tidak tahu harus berkata apa, namun teks ini sempurna. Kau mengulas semuanya dengan baik, dan tanpa celah. Aku suka caramu menyisipkan sumber lain, seperti mengutip dari buku The Climate Disaster. Dan aku tidak mengerti bagaimana caramu memperoleh data-data ini? Kau jenius." Jujur saja, aku bahkan tak tahu apa hal barusan yang kukatakan, namun kubuat begitu supaya terkesan seolah-olah aku memang anak pandai.

Jane mendaratkan pantatnya ke lantai, tangannya mengusap kepalanya ke belakang, memastikan agar rambut keritingnya tidak berantakan. 

"Terima kasih, Dani. Aku melakukan beberapa wawancara, sangat melelahkan."

"Oh iya?"

"Tidak mudah sebetulnya mewawancara orang-orang terhadap perubahan iklim. Beberapa orang percaya bahwa itu tidak akan terjadi, kau tahu? Seolah bukan masalah besar jika ada kepunahan massal. Kebanyakan mereka itu idiot, Eleanor akan berkata seperti itu."

Tawaku meledak. "Kau benar, ngomong-ngomong dimana dia sekarang?"

"Gereja, tampaknya."

"Gereja? Apa yang dilakukan oleh seseorang seperti Eleanor di gereja?"

"Berdoa?"

"Tidak biasanya dia menjadi gadis taat."

"Kau harus melihat wajah botaknya."

Aku menyusuri lorong sekolah Woodstock Secondary, setelah kelas Form menuju ke kelas Matematika. Sekolah tahun ini seperti biasa, tidak ada yang baru, maupun berubah, walaupun aku juga tidak mengharapkan perubahan. Kebanyakan aku tidak menyukainya. Pak Heindrich menyapaku setelah melalui pintu masuk, juga semua murid yang diajarnya. Dia adalah orang yang sangat baik. Terkadang aku menganggap bahwa orang baik itu sungguh menyeramkan. Entahlah. Sesuatu mengenai mereka terasa seperti ganjil, seolah-olah orang baik itu bagaikan panda. Mungkin terlihat menggemaskan atau bahkan huggable, tapi kalau mengesampingkan berapa banyak kasus pembunuhan yang dilakukan oleh panda selama beberapa tahun terakhir. Nutzzfeed tidak mungkin berbohong padaku.

Kemudian, setelah bel makan siang, Jane dan aku duduk di bangku seperti biasanya, bertempatan di sebelah ujung barat kantin yang bersebelahan dengan mesin minuman. Eugene Byrne meminjam uang pada Jane untuk membeli produk minuman jeruk. Dibawah meja, Jane mengetik sebuah pesan yang berparagraf. Aku tersenyum meneringai mengetahui bahwa nasib pacar Jane bakal tamat.

Dia melirik padaku. "Apa?"

"Tidak ada."

Lalu Eleanor Ives datang dan duduk hampir bersamaan dengan Eugene. Dia nampak seperti anak laki-laki dengan potongan rambut pirang cepak, dan kacamata hitam menggantung di hidungnya. Eleanor selalu menjadi yang paling nyentrik dalam grup kami. Seperti dia tidak pernah memedulikan perkataan siapapun, dan dia selalu terlihat percaya diri. Bahkan saat dia pernah menjadi bahan pembicaraan pada tahun ke delapan karena berseteru dengan Ariadne Porter, yang dulu merupakan temannya. Eleanor selalu tak takut untuk menjadi dirinya sendiri.

Aku selalu mengaguminya untuk itu.

Terkadang aku membayangkan bagaimana jika hidupku menjadi lebih seperti dirinya. Aku tidak perlu bersembunyi dibalik bayang-bayang rambut panjangku, atau bahkan seperti Jane. Berat badannya yang lumayan besar tampak tak jadi masalah untuknya, dan orientasi seksual Eugene. Kesamaan dari grup ini mungkin bahwa mereka bisa mengatasi rasa rendah diri dalam diri mereka, melawan monster yang bersemayam dalam tubuh mereka layaknya seorang pejuang ksatria berzirah. Kecuali diriku. Itu adalah sesuatu yang benar-benar harus bisa kuatasi. 

"Hai!"

Aku dan Eugene bertukar pandang.

"Hai! Apakah ini sudah Halloween? Kau menjadi seperti siapa? Ellen DeGeneres?"

Eleanor melempari Jane dengan wortelku.

"Lebih seperti Ellen Degenerate." Semprot Eugene. Eleanor sekali lagi melempar wortelku padanya. Kuberi tatapan tajam.

Sekarang, Jane sedang berbincang dengan Eugene perkara saudaranya, Theodore Byrne. Sementara aku harus dihadapkan dengan situasi canggung dengan Eleanor, yang kemudian memaksaku untuk memakan sandwich daripada harus mengobrol dengannya. Tidak hanya sandwich yang bisa menghentikan Eleanor untuk buka mulut.

Eleanor hanya mengamatiku yang membuat rasa risih merangkak di bagian punggungku.

"Apa?" 

"Kenapa kau tidak menyukai pesta, Dani?"

"Kenapa kau masih bertanya?"

"Aku hanya penasaran."

Yah, aku bukanlah gadis yang suka menghadiri pesta atau apa. Tidak seperti Eleanor ataupun Jane yang sering diundang untuk menghadiri pesta ulang tahun siapapun. Mungkin karena aku tak memiliki teman lain selain dalam grup. Tidak seperti aku menganggap bahwa aku adalah gadis yang lain daripada yang lain, dibanding mereka bertiga, mungkin aku yang paling biasa-biasa saja. Seolah, aku sendiri bingung. Bagaimana bisa aku berteman dengan mereka sejak awal? 

Pada dasarnya, Aku mengenal Eleanor semenjak kelas 3, dia bahkan bergabung ke Woodstock Secondary karenaku. Keluarganya terlalu kaya, dia mungkin bisa memilih untuk menghadiri sekolah asrama St. Sebastian seperti saudaranya, George, kalau ia mau. Dia menolaknya. Entah kenapa dia malah memilih untuk ikut kemana aku akan menempuh pendidikanku. Eleanor juga tinggal di sebuah Mansion tua peninggalan dari kakek dari kakeknya yang dulu adalah seorang Viscount, yang garis keturunannya mengalir ke ibunya Emma Beauvoir-Ives. Terkadang aku merasa bersalah karena telah menghancurkan masa depannya seperti itu. 

Aku meneguk jus jambu untuk melarutkan sandwich yang memenuhi mulutku. "Lagipula pertanyaanmu sama sekali tidak penting."

"Baiklah. Tapi kalau bicara secara hipotesis, jika kau memiliki teman yang mengadakan acara pesta, kau mau datang kan?"

"Itu tergantung apakah dia mengundangku atau tidak." 

"Dia itu temanmu! Bagaimana bisa ia tidak mau mengundangmu?"

Aku menghela napas. "Bisa saja karena teman itu tahu tahu kalau aku sangat membenci suara musik yang bising dan keramaian, serta memandang anak-anak keren mempermalukan diri mereka sendiri dengan berdansa, dan tersenyum layaknya hidup terlalu bagus untuk mereka."

Eleanor memandangku, berpikir.

Jadi aku bertanya, "Memangnya kenapa? Tidak biasanya kau mau mengadakan pesta?"

"Kupikir aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda, kau tahu. Sebelum, sebentar lagi aku akan masuk Sixth-Form, lalu kuliah, lalu uni, dan siapa tahu kita tidak akan bisa merayakan apapun bersama dengan teman dari sekolah menengah lagi?"

"Pikiranmu terlalu gelap, Elle. Kukira kita BFF?"

"Iya, kita memang BFF! Tapi, tentu saja, itu masih kupikirkan. Aku masih bingung apakah aku akan melakukannya atau tidak."

"Lebih baik jangan. Takutkan kalau saja nantinya 50% orang asing ini akan berencana untuk mencuri kalung warisan dari neneknya nenek ibumu."

"Kau aneh sekali, Dani."

"Kuanggap sebagai pujian."

Aku terbangun dari tidur siang dengan suasana hati yang sangat kacau. Hari itu mendung di tengah musim kemarau bulan Agustus, aku merasa akan turun hujan sebentar lagi. Tapi England memang selalu mendung. Siang itu aku bermimpi tentang kehilangan sepeda. Walaupun itu tak terlalu menyedihkan, disitu aku terpaksa berjalan pulang dalam jalanan tak berujung. Sebelumnya dalam perjalanan pulang, aku secara tak sengaja mencelakai orang dengan menabrak pinggul yang membuat orang itu terpeleset hingga jatuh. Itu sungguh mimpi yang aneh. Bahkan jika aku lega kalau itu hanyalah sebuah mimpi belaka, perasaan lelahku terbawa sampai dunia nyata. Kepalaku juga terasa berat luar biasa, dan rambut panjangku kusut tak tentu arah seperti telah dilanda bencana.

Dengan menggenggam ponselku, aku turun dari ranjang, melangkahkan kaki keluar untuk menuruni tangga. Setelah itu mengecek hal apa saja yang telah di tweet oleh Jane dan Eleanor. Kubuka lemari pendingin dan meminum sebotol air putih. Setelahnya aku membuat kopi. 

Eugene mengirimiku pesan untuk buru-buru datang ke tempat Bowling, aku memberitahunya 10 menit lagi. Ini adalah hal yang kadang kala kami lakukan untuk menghabiskan waktu akhir pekan dalam rangka merayakan ulang tahun seseorang yang mungkin sudah terlewat dua minggu atau lebih. Kali ini adalah ulang tahun Jane yang akan datang sepekan lagi. 

Setelah aku sampai disana, George Ives dan Jamie Kawahara sudah mulai menggelindingkan bola. Sementara Eugene menatap mereka dengan menyandarkan kepalanya pada satu tangan. Dia memutar bola matanya ketika George menyoraki bolanya yang mendapat strike. Dia bangun untuk pergi ke kamar mandi.

Eugene berpapasan denganku.

"Kau telat, Dani. Pertunjukan gila mereka berdua ingin membuatku mencekik diriku sendiri."

Aku terkekeh, "aku bisa melihatnya."

Eleanor langsung bangkit untuk memelukku kala dia menyadari kehadiranku. Ia melingkarkan tangannya ke bahuku, sambil membisikkan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Eugene. Minus bagian mencekik.

"Kau membawa Jamie? Dan George? Apa ini semacam kencan ganda?" Tanyaku pada Eleanor, kemudian beralih pada Jane yang sibuk mengetikkan sesuatu. "Jane?"

"Apa?"

"Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Dani. Aku hanya berpikir bahwa, alangkah baiknya kita mengajak banyak orang ... kau tahu. Semakin banyak semakin ramai."

Aku menelunjuk ke arah Eleanor, "pendusta. Kukira kita melakukannya untuk Jane?"

"Kata Jane tidak apa-apa. Kau tahu, daripada dia suntuk karena Theodore tidak bisa datang. Jadi aku mengundang mereka." Eleanor mendekatkan mulutnya di telingaku sambil berbisik. "Kasihan dia dari tadi murung semenjak... dua jam terakhir."

Jane menoleh ke arah pembiaraan kami. 

"Hey, aku disini!"

"Pada akhirnya kau hidup kembali!" Sindir Eleanor.

Theodore Byrne adalah kakak tertua Eugene. Dia merupakan salah satu komplotan nongkrong anak laki-laki tahun 11 yang beranggotakan George, Jamie, dan Martino Zaccaro. Bisa dikatakan George merupakan anggota terbarunya setelah pindah dari St. Sebastian ke Woodstock Secondary pada tahun kesembilan. Aku tidak tahu kapan awal mulanya grup kami menjadi dekat satu sama lain. Mungkin karena George adalah saudara Eleanor, dan Theodore merupakan saudara Eugene, atau karena Jane naksir pada Theodore, dan Eleanor dengan Jamie. Tidak ada yang tahu. Astaga, lingkup pertemanan ini benar-benar sangat rumit. Kuharap aku tidak berakhir mengencani salah satu dari mereka. Kemudian sebuah petir seolah menyabar kepalaku dan membuatku mengalami momen kesadaran sejenak.

Aku mendaratkan pantatku bersebelahan dengan Jane. Dia memberiku senyum dan bertanya tentang tugas kimia yang belum dikerjakan. Dia berinisiatif untuk mengerjakannya bersama, meski kami berbeda kelas. Kupuji gaya rambut keritingnya yang diurai, kurasa itu terlihat menawan. Jane mengucapkan terima kasih. Dia kemudian bangkit untuk menggelindingkan bola, awalnya ia mengajakku, namun aku menolaknya dan memilih untuk duduk. 

"Kemana Eugene?" Tanya George pada Eleanor.

"Mungkin ke toilet."

Beberapa saat kemudian Eugene datang dengan seseorang bocah dengan menggenggam dua gelas minuman di masing-masing tangan mereka. Bocah itu memiliki kulit yang gelap, mungkin lebih gelap dari Jane. Dengan mengenakan kaus putih yang dilapisi jaket biru tua berkancing terbuka. Ia menyunggingkan senyumnya pada Jamie yang sedang melambaikan tangan. Harus kuakui, dia memiliki senyum yang menawan. Walau bagaimanapun, aku lupa namanya. Bocah itu jarang berbicara, tipikal bocah pendiam pada umumnya, atau mungkin itu adalah salahku yang sama sekali tak pernah memiliki percakapan dengannya. Ia juga merupakan salah satu anggota grup George.

"Gustave! Kau lama sekali."

Eugene memberikan minumannya pada Jane dan George, sementara Gustave pada Jamie.

"Aku sedang menunggu Eugene."

"Yeah, tapi aku tidak memintamu."

"Lagipula aku butuh seseorang untuk membantuku membawa minuman-minuman ini, jadi..."

Eugene hanya menatap Gustave dengan perasaan canggung. Ia lalu pergi untuk bergabung dengan Jane, meninggalkan Gustave yang sekarang mendaratkan pantat bersebelahan denganku. 

"Kau Daniela, bukan?"

Mata coklatnya yang mengintimidasi kali ini bertemu denganku, ketidaknyamanan merangkak ke seluruh tubuhku, membuatku ingin lari dari sini dan pulang. Tampaknya dia tak lagi meneruskan obrolan kami setelah hanya kujawab dengan anggukan kepala saja. Kemudian dia langsung berdiri, yang kurasa hal tersebut cukup menjengkelkan buatku. Dia tak repot-repot mengatakan apa-apa, maupun mengajakku. Bahkan jika aku sama sekali tak menginginkan dirinya melakukan hal itu. Mungkin saja dia tahu bahwa kami tidak berteman, dia pun juga tampaknya tak memiliki niatan akan hal itu, seolah dia tahu sepatah kata yang akan ia lontarkan padaku hanya akan kubalas dengan anggukan semata. Bagaimanapun aku juga sama sekali tak memiliki niatan untuk menambah daftar orang yang akan kuajak bicara setiap hari. Kurasa kita secara telepatis sepakat bahwa kita lebih baik tidak berteman.

Hal itu sungguh mengecewakan, aku sungguh berharap kalau dia mencoba lebih keras untuk berbicara denganku.

Gustave mendapatkan strike setelah menggelindingkan bola pertamanya. Eleanor bersorak dan merangkulnya sementara Eugene bertepuk tangan, yang membuat George menoleh padanya dengan menaikkan alisnya. Sungguh langka jika seseorang seperti Eugene mengutarakan apresiasi. Kemudian, senyum yang terukir dalam wajah Gustave memudar tepat setelah ia melirik padaku, dengan cepat pandangannya ia alihkan pada Jane yang sekarang mendapat giliran menggelindingkan. Aku hendak bangkit untuk bergabung dengan Jane, namun George mengusulkan kalau sekarang adalah waktunya untuk bermain mesin Arcade. Kami pun bergegas ke sana.

Aku duduk di salah satu kursi game yang tidak dimainkan, menonton Eleanor bermain Pac-man. Meskipun ia selalu melirik-lirik pada Jamie melalui ujung matanya, yang memainkan Road Fighter bersama dengan George di sebelahnya. 

"Kenapa kau tidak mengajaknya untuk bermain denganmu, bukannya melirik-liriknya yang malah berkencan dengan saudaramu?"

Eleanor terkekeh, pipinya kemerahan. "Kenapa kau tak berkencan denganku saja?"

"Aku tidak suka cewek. Disamping itu, kalau aku memang iya, kau bukanlah tipeku."

"Oh ya?" Eleanor memicingkan mata. "Bibirmu tak mengatakan demikian setelah kucium di pesta Ariadne dulu."

"Aku tidak percaya kau membawa-bawa itu lagi." Kuputar bola mata sebelum melangkahkan kaki untuk menuju ke Jane dan Eugene yang sedang berdiri di depan mesin pengambil boneka. Mereka tampak serius dalam menggerakkan capit. Selang beberapa saat, Jane terlihat kecewa setelah mengambil sebuah boneka kelinci mungil dari lubang pemungut. Namun Eugene menyukainya. Mereka tampak bertengkar sebentar untuk memperebutkan koin, sebelum Jane menyarankan kalau mereka sebaiknya membeli makanan ringan. Terkadang Jane memang bocah yang pengatur.

Aku hanya berdiri di sana sambil memandangi mereka berdua beranjak, sebelum tubuhku hampir menabrak Gustave yang menghampiriku. Dia meminta maaf setelah ku omeli.

"Kau ingin bermain Alien Shooter?"

Kupandang dia dengan penuh keterkejutan, tak mengatakan apapun.

Yang kulakukan hanyalah menatap kosong pada bola matanya, semakin dalam, hingga membuat seluruh pandanganku seolah mengabur. Aku hilang fokus dalam sedetik itu juga. Dalam pikiranku tak terbesit perkataan apapun, hanya kekosongan yang sama sekali tak bisa ku utarakan. Segalanya terasa berat, lantai tempatku berdiri seolah mengisapku kedalam layaknya lumpur, dan aku kesulitan bernapas. Darah yang dipompa oleh jantungku terasa semakin cepat. Semakin hangat. Semua yang bisa kupikirkan hanyalah bagaimana caraku keluar dari sini. Haruskah aku lari? Atau aku hanya menghilang dalam sekejap layaknya seseorang dengan bakat teleportasi?

Aku tidak tahu kenapa aku mendadak merasakan rasa benci bila berada di sekitarnya. Tidak ada yang tahu siapa yang menanam benih kebencian terlebih dahulu, apakah itu dia atau aku. Bahkan bila dipikirkan, dia tak pernah melakukan hal buruk padaku. Percakapan terpanjang kami mungkin adalah saat dirinya bertanya padaku tentang namaku, itu juga bisa dihitung sebagai percakapan pertamaku dengannya. Aku tak bisa memahaminya?

"Hey?" Panggilnya membuyarkan lamunanku. "Kau mau bermain Alien Shooter?"

"Maaf, aku...aku-" dia langsung mengangguk sebelum aku bisa melanjutkan perkataanku dan menjelaskan semua itu padanya. Aku langsung paham kalau dia bisa saja menyalahartikan kegugupan serta permintaan maafku sebagai penolakan. 

"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti."

Dia terus menatap dan aku perlahan menatap balik, situasi benar-benar canggung sampai pandanganku langsung kualihkan darinya kebawah. Aku selalu mengira kalau saja jika seseorang menatapku, lalu kualihkan pandanganku kemana pun, maka orang tersebut tak akan pernah bisa melihat keseluruhan wajahku. Sehingga hal tersebut menjadi trik yang cocok untuk menyembunyikan raut mukaku agar lawan bicaraku cepat-cepat merasa tak nyaman dan meninggalkanku. Aku paham betul kalau semua itu bohongan, alasan sebenarnya dariku melakukan hal tersebut adalah karena aku tak berani menghadap langsung kepada orang-orang, apalagi melakukan kontak mata. Terkadang aku berpikir andai aku adalah orang yang lebih berani, walaupun aku sungguh tak bisa membayangkan bagaimana cara tatap menatap orang satu dengan orang yang lain. Apa yang mereka lakukan ketika sedang dihadapkan pada posisi itu. Apakah mereka saling memelototi layaknya dua orang adu berkedip atau bahkan bertukar informasi seperti Bluetooth melalui kontak mata?

Bahkan sedari tadi aku sungguh menyadari kalau pipiku merona. Terlalu sulit buatku untuk membuka mulut, dia membuatku seperti kehabisan kata-kata, dan aku mencoba untuk merogoh kata-kata. Masalahnya aku tidak yakin apakah aku mau bermain Alien shooter dengannya. "Maksud...maksudku.. aku tidak...te-"

Aku berniat menjelaskan secara detail tentang masalahku, sebelum mengucapkan terima kasih karena telah mengajakku, akan tetapi karena bodohnya aku dalam berbicara, akhirnya kalimatku dipotong olehnya.

"Semoga harimu menyenangkan, Daniela." Gustave mengangguk dan langsung pergi, mulutnya menggumamkan sesuatu. "Tidak ada salahnya mencoba."

Aku hanya berdiri disana seperti seorang idiot. Melihat punggungnya menjauh, kehangatan yang semula menyelimuti tubuhku berubah menjadi hawa dingin yang menggigit. Dadaku rasanya sesak seperti diremas-remas bagai kain basah. Kemudian tubuhku melemas. Aku tak tahu harus melakukan apa. Apakah meminta maaf atas kesalah pahaman lalu mengejar lajunya sekarang adalah ide yang bagus? Tapi untuk apa?

"Hey!"

Aku memanggilnya, namun karena polusi suara bising permainan video seolah meredam semua suara yang muncul, dia tak mengindahkan panggilanku.

Setidaknya aku berpikir begitu.

Kemudian dia berhenti sebelum berpaling, tangan diletakkan di dalam sakunya. Mata yang tajam menusuk kala kami berkontak mata, alisnya ia naikkan sedikit. Jantungku berdegup tak karuan, aku sungguh khawatir nantinya akan mengompol.

Dia dengan cepat berjalan kearahku, "kau memanggilku?"

"Ya." Kataku dengan mantap. Gustave hanya mengerucutkan bibir sambil mengangguk.

"Maaf, aku sungguh..." aku menghela napas. "Ngomong-ngomong, aku tidak bermaksud.. menolakmu. Hanya saja, kau membuatku gugup."

Aku merasa seolah-olah matanya berpendar.

"Oh iya? Kenapa begitu?"

"Tidak tahu. Mungkin karena-"

George menepuk bahu Gustave sehingga membuatnya terperanjat. Aku menatap bocah tinggi rambut pirang, bermata biru tersebut dengan perasaan sebal yang mendadak menggumpal di dalam dadaku. Masalahnya mereka berdua langsung berbincang satu sama lain seolah mengabaikan seluruh eksistensi dari diriku, seolah aku tak disana. Mereka berdua berbisik-bisik sambil mendekatkan mulut ke telinga masing-masing. Aku tak bisa mendengarkan apa yang mereka perbincangkan, hanya terfokus pada bibir Gustave serta cara berbicara menggunakan gestur tangannya. Seketika raut wajahnya berubah khawatir, bahkan berulang kali aku mendapatinya termenung hingga larut dalam pikirannya. Kemudian Gustave bernapas dengan kasar sewaktu telingaku dapat menangkap George yang sedang menjelaskan sesuatu tentang tempat persembunyian padanya.

Buru-buru aku langsung beranjak dari kedua pria tersebut, berusaha untuk tak mengindahkan apapun yang mereka katakan. Walau jauh dari lubuh hati terdalamku aku ingin tahu apakah yang dimaksud dengan tempat persembunyian, namun hal tersebut sama sekali bukanlah urusanku. Sehingga aku meninggalkan Gustave yang masih berdiri disana tanpa mengucap sepatah kata perpisahan.

Sepulangnya bahkan kami sampai tak berbicara lagi. Mungkin dia menyadari bahwa waktu itu aku mencoba terlalu keras untuk menghindarinya, sehingga memutuskan untuk tak menggangguku. 

Namun jujur saja, aku agak memiliki sedikit penyesalan karena pergi meninggalkannya begitu saja.



Comments