Beberapa orang berkata kalau mereka tidak ingin hidup. Ada yang mengatakan bahwa mereka tidak ingin cepat mati. Tapi tentu, ada juga yang pernah mengatakan bahwa mereka tidak ingin mengalami keduanya. Tidak ada yang menyadari bahwa mungkin secara tidak sadar mereka pernah berada di ambang kehidupan dan kematian. Itu dinamakan keputusasaan.
Saat itu aku sedang duduk di sebuah kursi plastik. Dengan pemandangan yang sunyi, dan dingin. Jauh dari dalam ruangan, aku bisa merasakan bahwa diluar cuacanya cerah dan berbintang. Lampu berkedip-kedip dari ujung ruangan, serta suara deritan roda dan langkah kaki perawat yang mendorong pasiennya membuatku gugup. Tangisanku berhenti sedari tadi, pada akhirnya. Tapi aku mulai tidak bisa berhenti memikirkan hal yang baru saja kulihat. Atau mungkin lebih tepatnya, aku mulai mempercayai bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk di malam pertengahan musim panas belaka.
Itu adalah tatapan kilas yang mengakhiri segalanya. Ketika aku menatap kearah tubuh ibuku yang tergeletak di bak mandi. Dengan mata yang menghadap ke atas seperti seolah dia baru saja menemui Tuhan. Mulut penuh busa putih pucat, sepucat kulitnya. Segera aku mengalihkan pandanganku dan berteriak histeris. Berusaha sekuat tenaga untuk memintai bantuan ayahku, atau siapapun yang ada di sekitar. Tidak ada yang menanggapi. Aku menoleh dari bahuku, mendapati sebuah kemasan oranye yang tampak baru saja menggelinding dari tangannya. Dan pil dalam berbagai jenis—aderall, hydromorphone, atau apapun itu, tampak berserakan dimana-mana seperti gelang manik-manik yang putus.
Segera aku mengikat rambutku ke belakang dengan tangan dan muntah di toliet depanku. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Udara yang kuhirup terasa seperti bukan lagi udara. Apa yang ku lakukan hanyalah berbaring di sebuah dinding berkeramik sambil mencengkeram kerah bajuku. Aku merasakan detak jantungku kian melambat, hal itu membuatku pingsan seketika.
Ketika aku sadar, aku melihat ayah duduk di depanku. Menepuk-nepukkan tangannya di pipiku dengan meneriakkan kalimat yang sama sekali tidak bisa kudengar. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat kesamaan dari wajahku dengannya. Dengan bibir tipis, mata hitam, dan alis sedikit tebal. Dia tampak tua dan kelelahan. Ditambah air matanya yang memperburuk raut mukanya, betapa hal yang baru saja disaksikannya itu sangat menghancurkan dirinya. Mungkin dia berpikir bahwa aku juga mencoba untuk bunuh diri bersamaan dengan ibu. Kemudian, aku melihat ekspresinya sedikit melega kala aku berjuang untuk membuka mata. Dia langsung memelukku dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku berhenti sejenak untuk berpikir, tanpa menjawabnya aku jatuh dalam tangisan. Kami berdua pun sesenggukan sebelum para petugas ambulan datang untuk menjemput mayatnya.
Disinilah aku menatap ke ubin lantai seolah itu adalah hal yang paling menarik di dunia. Dimana aku tidak bisa bergerak, atau berdiri, atau melakukan apapun untuk keluar dari tempat ini. Walaupun aku sungguh ingin melakukannya.
Setelah berjam-jam menunggu. Akhirnya pintu di sebelah kiriku terbuka, menunjukkan seorang pria yang dipenuhi keringat dingin dan keputusasaan. Ayah mengunci tatapannya denganku selama beberapa sekian detik. Dia hanya berdiri disana dengan pakaian lusuh yang sama seperti yang dikenakannya tadi. Sebelum akhirnya ia bergerak untuk duduk di sampingku dan meraih bahuku, dengan menggunakan bahunya sendiri sebagai sandaran keayahan yang nyaman.
Aku menutup mataku di bahunya, kami berdua duduk di dalam kesunyian. Dengan diringi suara langkah kaki orang lewat, ayah dan aku berkabung bersama dalam keheningan malam.

Comments
Post a Comment